Stay updated with our latest news, events, and important information.
Seoul, South Korea — Korea Youth Summit 2025, yang diselenggarakan oleh Youth Break the Boundaries (YBB), telah sukses menghadirkan ratusan delegasi muda dari berbagai negara untuk menjalin kolaborasi lintas budaya, berdiskusi tentang isu global, dan membangun jaringan masa depan. Salah satu sesi panel discussion yang menjadi sorotan adalah “Beyond the Border”, yang menghadirkan pembicara Kim Kang Woo, seorang tokoh pada isu unifikasi.
Sesi ini mengajak peserta untuk memahami isu perbatasan Korea secara lebih komprehensif, tidak hanya dari sudut pandang geopolitik, tetapi juga melalui pengalaman hidup, realitas sosial, dan tantangan kemanusiaan yang dialami generasi muda di dua sistem yang berbeda.
Kim Kang Woo merupakan mahasiswa Political Science and International Relations di Kookmin University. Ia adalah lulusan Songbong High School, Hyesan City, Korea Utara, yang kemudian menempuh perjalanan hidup lintas batas hingga akhirnya melanjutkan pendidikan di Korea Selatan.
Selain akademik, Kim aktif dalam berbagai peran strategis. Ia menjabat sebagai President of ‘Freedom’ Club di Kookmin University serta Director of Envision Foundation.
Dalam sesi “Beyond the Border”, President of ‘Freedom’ Club at Kookmin University ini, menguraikan perbedaan mendasar antara Korea Utara dan Korea Selatan melalui kerangka sistem politik, ekonomi, serta sosial-budaya. Korea Utara digambarkan sebagai negara satu partai dengan ekonomi terencana dan ruang sosial yang tertutup, sementara Korea Selatan berkembang dengan sistem demokrasi, ekonomi berbasis pasar, dan keterbukaan sosial.
Perbedaan sistem ini menjadi landasan untuk memahami bagaimana kebijakan negara berdampak langsung pada kualitas hidup, akses informasi, serta kebebasan individu.
Dalam pemaparan yang faktual dan edukatif, Ia menyoroti tiga aspek penting:
Dalam konteks ini, praktik seperti ideological mass rally dijelaskan sebagai bagian dari pembentukan kesadaran kolektif, yang turut memengaruhi cara berpikir generasi muda.
Pembahasan kemudian berlanjut pada realitas defeksi, mulai dari alasan seseorang meninggalkan Korea Utara, proses perjalanan lintas negara yang penuh risiko, hingga tantangan adaptasi di Korea Selatan. Dirinya menekankan bahwa pemuda dari kedua Korea berasal dari generasi yang sama, namun tumbuh dalam realitas yang sangat berbeda, terutama dalam hal kebebasan, peluang, dan komunikasi.
Pada bagian akhir materi, Direktur Envision Foundation ini mengajak peserta melihat peran komunitas internasional dalam isu Korea Utara serta membuka ruang refleksi bersama tentang masa depan perdamaian dan kemungkinan unifikasi Korea. Diskusi ini menekankan pentingnya empati, dialog terbuka, dan peran aktif pemuda global
Melalui sesi “Beyond the Border”, Korea Youth Summit 2026 menghadirkan ruang refleksi yang kuat dan relevan bagi generasi muda dunia. Kim Kang Woo tidak hanya membagikan pengalaman personal, tetapi juga mengajak kamu memahami isu perbatasan sebagai persoalan kemanusiaan bersama. Sesi ini memperkuat peran Youth Break the Boundaries dalam membentuk pemuda yang kritis, empatik, dan siap berkontribusi pada perdamaian global.